Kasih Hadiah ke Guru, Menyuap atau Gratifikasi?
https://www.kompasiana.com/amp/wilsonchan/62c4f61a297d6833476af0c2/kasih-hadiah-ke-guru-menyuap-atau-gratifikasi
Suap menyuap tidak hanya terjadi di kalangan pemerintahan dan kepolisian saja, tetapi juga terjadi hampir di semua kalangan, salah satunya adalah di kalangan pendidikan. Beberapa orang tua murid biasanya akan memberikan hadiah berupa uang atau barang-barang mewah kepada sang guru agar guru tersebut lebih memprioritas anak mereka atau bahkan agar sang guru tidak memberikan nilai yang jelek kepada anak mereka. Mungkin beberapa orang berpikir hal ini tidak apa-apa dilakukan karena tidak ada pihak yang dirugikan jika kita tidak memandang ketidakadilan yang dialami oleh murid-murid lain lulus karena mereka benar-benar belajar dengan serius, tapi hal itu mungkin saja terlihat sepele dimata orang dewasa. Suap menyuap di kalangan pendidikan mungkin memang tidak memberikan dampak yang buruk secara langsung, namun, pernah kah kita berpikir, jika di kawasan pendidikan saja anak-anak sudah biasa melihat tindakan korupsi terjadi, apa pandangan mereka tentang korupsi jika mereka sudah besar nanti.
Tidak kah ironis sekali, sekolah-sekolah di zaman sekarang memberikan pembelajaran anti korupsi, tetapi yang mengajarkan pelajaran tersebut sendiri saja melakukan kegiatan korupsi. Tidak kah hal tersebut akan memberikan pikiran kepada anak-anak "Ya, mungkin di depan orang-orang, kita bilang kita benci korupsi, tapi beda lagi jika dibelakang, toh hal itu sudah normal".
Namun, jika kita lihat-lihat lagi, gaji para guru, khususnya guru sekolah negeri, tidaklah tinggi, maka tentu saja dorongan untuk menerima suapan dari para orang tua murid bisa dibilang cukuplah tinggi. Jika kita ingin mengakhiri adanya kegiatan suap menyuap di kalangan pendidikan, salah satu hal yang harus pemerintah lakukan adalah menaikan gaji para guru tersebut. Jika gaji para guru saja masih seperti itu, kita tentu saja tidak boleh dengan keras melarang para guru menerima hadiah dari para orang tua murid atau para murid. Setidaknya para guru boleh menerima gratifikasi dari para orang tua atau murid. Dari hal itu, pastilah muncul pertanyaan, bagaimana kita bisa membedakan pemberian itu gratifikasi atau suap? Sebenarnya ada solusi yang mudah, yaitu memberikan pemberian ke guru bisa dilakukan saat sudah naik kelas atau lulus, atau juga bisa dengan memberikan pemberian secara anonymous agar sang guru tidak mengetahui identitas sang pemberi (jika sebagai pemberi kita ingin identitas kita diketahui, kita harus bertanya lagi kepada diri sendiri, kita benar-benar ingin memberikan gratifikasi atau suap?)
Jika kita ingin memberantas korupsi, kita harus mencabut akar korupsi dan salah satu akar tersebut ada di kalangan pendidikan.
Menurut Tanggapan Saya !
Menurut saya, memberi hadiah kepada guru memang bisa menjadi hal yang sensitif, tergantung dari konteks, niat, dan waktunya. Di satu sisi, kita tumbuh dalam budaya yang menghargai guru sebagai sosok penting dalam membentuk masa depan kita. Wajar saja jika ada orang tua murid atau murid sendiri yang ingin menunjukkan rasa terima kasih mereka melalui hadiah atau bingkisan kecil, apalagi setelah masa pembelajaran berakhir, seperti saat kelulusan. Dalam kasus seperti ini, saya melihatnya lebih sebagai bentuk apresiasi dan rasa hormat, bukan sebagai bentuk suap atau gratifikasi.
Namun, di sisi lain, kalau hadiah diberikan saat proses belajar masih berlangsung, apalagi disertai harapan agar si guru memberikan nilai bagus atau perlakuan istimewa, maka itu bisa jatuh ke dalam kategori gratifikasi yang tidak sehat. Hal ini bisa menciptakan ketimpangan di lingkungan sekolah dan merusak integritas profesi guru. Lebih parah lagi, murid lain yang tidak mampu memberikan hadiah mungkin merasa dirugikan atau tidak diperlakukan adil.
Karena itu, saya rasa penting sekali untuk mengedukasi masyarakat tentang batasan etika dalam memberi hadiah kepada guru. Jika memang ingin mengapresiasi guru, bisa dengan cara yang lebih netral seperti membuat surat ucapan terima kasih, memberi kenang-kenangan dari kelas secara kolektif, atau mengadakan acara perpisahan kecil. Intinya, penghargaan itu harus datang dari niat tulus, bukan untuk memperoleh keuntungan pribadi. Dan guru pun punya tanggung jawab moral untuk menolak pemberian yang berpotensi melanggar etika profesi.

Baru tau😯
ReplyDeleteamazing
ReplyDeletewoww
ReplyDeletemksh info nya
ReplyDelete